BELAJAR KEARIFAN DAKWAH DARI WALISONGO (CERAMAH HALAL BIHALAL Ust. SALIM A. FILLAH)


BELAJAR KEARIFAN DAKWAH DARI WALISONGO
(CERAMAH HALAL BIHALAL Ust. SALIM A. FILLAH)

Halal bihala adalah syiar islam khas indonesia yang sudah ada dan diakui semenjak dahulu. Menurut para ahli sejarah, syiar halal bihalal ini sudah ada sejak jaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, yang kemudian diterima secara massif dan turun temurun oleh masyarakat islam di Indonesia. Dalam hadis rasul disebutkan bahwa dari ramadhan ke ramadhan berikutnya itu adalah penghapus dosa dosa, selama menjauhi dosa besar. Tapi itu baru dosa haqqullah. Lalu bagaiamana dengan dosa haqqul adam? Maka itu dituntaskan dengan saling memaafkan, maka lahirlah tradisi halal bihalal

Secara umum memang banyak kita temui ayat ayat al qur`an dan hadis yang memerintahkan kita meminta maaf maupun memaafkan. Seperti ayat  walya'fụ walyaṣfaḥụ, alā tuḥibbụna ay yagfirallāhu lakum, (an nuur : 22), Khudzil 'afwa wa'mur bil 'urfi.. (al a`raf : 199) dan banyak lagi ayat yang lain. Begitu juga hadis yang masyhur tentang peringatan agar kita tidak menjadi orang orang yang bangkrut nanti di akhirat, maka diminta untuk saling memaafkan. Secara kolektif, tradisi saling meminta dan saling memberikan maaf ini di wujudkan dengan halal bihalal, menyempurnakan maghfirah yang sudah didapatkan dari bulan ramadhan

Beranjak pada sejarah dakwah di Jawa, tidak ada yang lebih sukses dakwahnya di Jawa ini melebihi dakwah para walisongo. Dalam tempo kurang dari lima puluh tahun, mereka berhasi l mengubah masyarakat jawa dan memberikan pengaruh yang luar biasa pada kerajaan jawa yang sebelumya hindu menjadi islam. Kita sekarang ini mewarisi semangat dakwah yang dilakukan walisongo dan diikuti tokoh tokoh san ulama islam di seluruh nusantara.

Penting ditegaskan bahwa kita ini sebenarnya tidak pernah di jajah selama 350 -400 tahun.  Kalau benar kita ini dijajah selama itu, maka nasib kita sudah seperti bangsa asli amerika yang semula berjumlah 110, lalu nyaris habis sekarang setelah kedatangan orang orang eropa. Kalau benar kita ini dijajah selama itu, maka nasib kita itu sudah seperti bangsa aborigin di Australia yang semula 27juta orang sekarang sudah habis. Lalu apa yang di alamai nusantara selama ratusan tahun itu? Yang terjadi sesungguhnya adalah kita berjuang melawan upaya penjajahan, dan akhirnya perjuangan itu berhasil, dengan lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka

Dan uniknya Indonesia, setelah orang orang yang berupaya menjajah itu pergi, kita kemudian bersatu menjadi satu bangsa satu negara, di atas sekian ratus suku bangsa, bahasa dan tujuh belas ribu pulau. Ini beda dengan negara negara yang lain yang setelah penjajah pergi lalu terpecah menjadi negara negara kecil. Itu sebagaimanaterjadi di timur tengah. Inilah berkah dari perjuangan dan dakwah para ulama. Dan upaya para pemimpin dalam melawan penjajahan itu sungguh luar biasa, sebagaimana kesultanan demak yang mengirim pasukan mencegat portugis di Malaka di bawah pimpinan Fathi Yunus (Adipati Unus). Lihat pula bagaiamana perjuangan sunan Fatahillah melawan serangan kolonial di Sunda kelapa.

Kembali kepada sejarah dakwah walisongo, mari kita lihat beberapa saja sampel teladan bagaimana  para wali itu berdakwah di Jawa. Pertama mari kita teladani dakwah yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim. Seorang dai yang aslinya berasal dari Azerbaijan. Lalu beliau belajar dan berkelana sampai ke Mesir. Semangat dakwah nya yang menyala membawa beliau berlayar menuju Nusantra, dan mendarat di Gresik tahun 1405. Ketika baliau tiba, rakyat gresik sedang mengalami krisis politik dan berimbas pada krisis ekonomi, sebagai akibat dari perang paregrek yang belum lama terjadi

Melihat hal ini, beliau tidak langsung mengumandangkan islam, tapi melihat peta problema masyarakat, yang menjadi semakin menderita karena tidak memiliki keahlian bertani yang baik. Beliau berupaya meberikan solusi dalam hal ini. Sang Maulana, hasil dari interaksinya dengan para petani di Mesir, beliau memprakarsai cara bertani yang baru dengan cara membuat bendungan di kali bengawan sehingga menghasilkan sawah sawah baru dengan tata cara pengairan yang baru.  Dan hebatnya, semua itu beliau bangun dengan biaya dari hartanya sendiri. Di tahun berikutnya, hasil pertanian beliau sudah bisa beliau pakai untuk membantu sekian banyak masyarakat miskin di daerahnya

Kemasyhuran sang maulana dalam membantu masyarakat ini dirasakan pula oleh pihak kerajaan majapahit yang waktu itu sedang masa transisi di bawah pemerintahan Maharani Suhita. Di saat itu, datanglah pasukan damai dari china di bawah pimpinan laksamana ceng ho. Dan Maulana memanfaatkan momentum ini untuk meminta bantuan kepada pasukan china dalam proyek proyek sosialnya. Sehingga semakin sukseslah  proyek proyek beliau dalam memberi solusi bagi problem masyarakat. Setelah itu semua, barulah beliau mendakwahkan islam dengan mudah ke masyarakat gresik. Beliau menjalankan metode at-ta`lif qobla at ta`rif. Merebut hati masyrakat dengan solusi solusi baru kemudian berdakwah. Beliaulah yang kita kenal dengan Sunan Gresik sekarang


Kedua kita juga harus belajar dakwah dari syekh Maulana Rahmatullah. Beliau adalah keponakan Ratu Amaravati, istri raja brawijaya.  Dengan bekal kekerabatannya dengan keluarga kerajaan, beliau  datang ke kerajaan brawijaya menawarkan diri untuk menjadi guru ilmu tata negara. Singkat cerita, dengan ijin kerajaan beliau mendirikan perguruan tata negara di Ampel denta, daerah Surabaya sekarang. Beliau tidak mengajarkan ilmu agama secara langsung. Tapi ilmu tentang kenegaraan. Tapi karena orang melihat keseharian beliau sebagai muslim yang taat, akhirnya orang mengikuti cara hidup dan dakwah beliau.


Inilah pelajaran pentingnya, bahwa beliau mendirikan lembaga pendidikan tanpa harus menonjolkan identitas dulu, tapi menggarapnya dengan serius sebagai proyek investasi jangka panjang dakwah. Pada akhirnya beliau dikenal sebagai Sunan Ampel. Karenanya, para dai yang bergerak di pendidikan, sangat bagus jika membuka sekolah atau madrasah sesuai dengan kultur dan budaya daerah masing masing saja, jangan memaksakan menggunakan identitas baru yang belum akrab atau asing di masyarakat.

Ketiga kita juga harus belajar dakwah dari maulana usman haji dan anaknya sayyid jakfar shadiq. Bapak anak ini berasal dari baitul maqdis, palestina. Maulana Usman haji adalah seorang pakar di bidang militer, yang bahkan diangkat oleh kerajaan majapahit sebagai instruktur di bidang militer. Salah satu karya beliau adalah saat mengirimkan 60 prajurit terbaik majapahit didikan beliau ke kerajaan karang asem di bali.

Yang lebih fenomenal lagi adalah anak beliau,Sayyid Ja`far Shadiq, yang memutuskan berdakwah di pesisir utara jawa. Salah satu yang dicatat sejarah adalah kepiawaian beliau memanfaatkan dan mengolah isu, dan bagaimana menjadi influencer bagi masyarakat. Di tempat beliau berdakwah, masyarakat menganut hindu yang taat yang sangat mengagungkan sapi. Lalu beliau membeli sapi terbaik, memberi makan dengan makakan terbaik, dan membuat orang penasaran apa yang akan beliau lakukan dengan sapi itu

 Lalu di tengah masyarakat yang sudah pada menunggu itu, beliau bercerita bahwa dalam islam, ada surat terpanjang dalam kitab sucinya, yaitu surat sapi. Dan beliau ceritakan tentang sapi itu kepada masyarakat dengan cerita bersambung yang selalu membuat masyarakat gemar mendengarnya, menjadi fans dan subscirber tetapnya. Singkatnya beliau menjadi semakin dicintai, masyarakat berduyun duyun masuk islam, dan kota tempat tinggalnya itu dinamai dengan kota kudus, dan didirikan masjid al aqsha untuk menandai persahabatan dan penghormatan masyarakat terhadap sayyid jakfar shodiq yang berasal dari baitul maqdis, yang belakanagan kita kenal dengan sunan kudus.  
 
Keempat kita juga harus belajar dakwah dari syekh Maulana Ishaq, seorang pendakwah yang berasal dari Samarkand. Beliau memanfaatkan keahlian beliau di bidang medis dan kesehatan. Ketika beliau berada di Blambangan, sedang terjadi wabah penyakit. Beliau memanfaatkan keahliannya dengan menjadi tabib bagi para pasien dan mengajarkan pola hidup sehat dan cara mengatasi wabah penyakit kepada masyarakat. Diantara yang beliau obati juga adalah putri sekardadu, putri dari raja prabu menak Sembuyu, penguasa Blambangan. Beliau akhirnya dinikahkan dengan putri sekardadu. Dari pernikahan ini lahirlah raden ainul yaqin yang belakangan di kenal dengan Sunan Giri, yang masyhur dengan padepokan giri nya. Hampir seluruh raja raja di Nusantara di sumatra, kalimantan sampai indonesia timur belajar kepada beliau, sehingga sampai ada anggapan raja raja itu tidak sah kekuasaaannya sebelum belajar pada Sunan Giri.

Kelima tentu kita harus belajar pada Raden Mas Said alias Sunan Kalijogo. Beliau mashyur dengan pendekatan budaya nya dalam berdakwah. Bahkan konon, alat alat pertanian seperti cangkul, bajak dan lain lain itu beliau yang mengajarkan. Waktu beliau hidup, di jawa sedang booming kisah mahabarata dan ramayana. Maka beliau masuk ke dalam cerita itu untuk menjadikannya sebagai sarana dakwah. Keputusan beliau ini sempat menjadi bahan diskusi di kalangan para wali yang lain, memgingat mahabarata dan ramayana ini semacam kitab suci bagi agama hindu. Apakah tidak terlalu jauh berdakwah dengan bahan kitab suci dari agama lain.

Tapi beliau berhujjah dengan kisah nabi Ibrahim AS yang sempat diceritakan melihat bintang, bulan dan matahari dan mengibaratkannya sebagai Tuhan. Perlu diketahui, bahwa kisah Nabi ibrahim dengan bintang, bulan dan matahari itu sebenarnya bukan kisah beliau mencari Tuhan. Sama sekali tidak. Beliau sudah mengenal Allah sejak awal, sehingga berulang ulang disebutkan bahwa beliau wa maa kaan minal musyrikin. Tidak pernah menjadi musyrik dengan menyembah makhluk. Tapi kisah beliau dengan bintang, bulan dan matahari itu sebenarnya sedang dalam konteks berdakwah pada kaumnya, bahwa yang kalian sangka Tuhan itu ternyata tenggelam. Bahwa Allah berarti tidak mungkin bersifat seperti itu.

Maka dengan hujjah itulah Sunan kalijaga berani menggunakan mahabarata dan ramayana sebagai wasilah dakwah, dengan sarana wayang kulit. Beliau membuat perubahan perubahan sebagai berikut :

a.      Beliau mengubah bentuk wayang yang semula digambarkan per adegan, menjadi per karakter/lakon. Apa tujuannya? Supaya bisa lebih mudah diceritakan dan lebih bisa ditonton banyak orang dalam jumlah besar

b.      Beliau menggambarkan karakter karakter wayang itu dengan bentuk yang tidak serupa dengan manusia. Beda dengan wayang yang semula di kenal dalam tradisi hindu yang meyerupai manusia

c.       Beliau membawa karakter lakon wayang dalam bentuk fisik, misal lakon baik digambarkan bibir ciut karena tidak banyak bicara, mata sipit karena ghaddul bashar dan perut ramping. Sedangkan lakon buruk digambarkan dengan bibir lebar, mata melotot dan perut buncit karena serakah.

d.      Beliau juga melakukan desakralisasi dewa dengan mengganbarkan para dewa ini menjadi manusia yang ternyata banyak juga kesalahan dan keluputannya. Sehingga persepsi orang tentang dewa ini akhirnya berubah dan hilang sama sekali

e.       Dengan pendekatan tradisi dan budaya ini ternyata beliau sukses besar mengajarkan islam di Jawa

Disinilah kita harus belajar banyak, melihat lingkungan dan dunia dakwah kita sekarang. Di jaman sosial media ini, kentara sekali kekurangan kita dalam membawa dakwah untuk bertransformasi dengan zaman. Berapa banyak asatidz kita yang punya channel youtube dengan banyak subscriber? Berapa banyak influencer kita dari kalanagan muda yang bisa merambah berbagai segmen? Berapa banyak kader yang bisa meniru para influencer media sosial di berbagai bidang seperti felix siauw, gus baha` atau didi kempot?

Karena itu semua lahan teknologi memang harus menjadi bidang garap serius dakwah kita sekarang. Kalau mau serius menggarap sosial media, kita harus punya data usia pengguna masing masing sosmed seperti facebook (25-65 tahun), instagram (16 – 25 tahun), twitter, facebook dan lain lain. Dan ketika terjun dalam masyarakat yang luas itu, jangan terburu buru memperlihatkan identitas kita. Jika membuat film, tidak usah dilabeli film islami, ujung ujungnya malah ustadz ustadz dan para kader yang sudah soleh dipaksa nonton ke bioskop. Padahal mestinya tujuan membuat film itu kan agar yang tidak soleh pada nonton lalu jadi soleh. Kalau para kader para ustadz tidak usah nonton sudah pada soleh. Lihatlah bagaiamana film cut nyak dien  garapan Eros Djarot, penuh dengan fikroh islam, mempengaruhi secara positif ke banyak orang tanpa harus membawa identitas film islami

Di samping memaksimalkan potensi dunia maya, tentu saja para influencer off line, asaitdz dan kyai kyai kita di kampung dan masyarakat terus bergerak dan berdakwah secara langsung. Jadi di dunia nyata masyarakat ketemu kita, di dunia masyarakat ketemu kita lagi, dengan fikroh yang terus kita tebarkan dengan tidak melupakan kultur ke Jawa an kita. Mudah mudahan dengan cara itulah kita berhasil mengusung dakwah ini semakin baik dan maksimal hasilnya. Amiin


Disarikan oleh tim redaktur www.asadmahmud.net

Comments

Popular posts from this blog

KEKUATAN DOA