Hadis Arbain Nawawiyah ke -9 : Menjauhi larangan dan menjalankan perintah

Hadis Arbain Nawawiyah ke -9 :
Menjauhi larangan dan menjalankan perintah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ .[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr radhiallahu ‘anh, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh)” (Bukhari no. 7288, Muslim no. 1337)

FIQHUL HADITS (KANDUNGAN HADITS)

1.          Komitmen menjauhi larangan
a)      Larangan yang sifatnya haram, contoh: larangan berzina, minum-minuman keras, mencuri, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan menurut syariah, membuka aurat di depan orang yang bukan muhrim, berdusta, menipu, suap, ghibah, namimah, dsb.
b)      Larangan yang sifatnya makruh, contoh: larangan makan bawang mentah bagi orang yang ke masjid untuk melakukan sholat jama’ah.
2.          Komitmen terhadap perintah
a)      Perintah yang bersifat wajib
b)      Perintah yang bersifat sunah
3.          Kaidah – kaidah ushul fiqh yang didasarkan pada hadis ini
a)      الضرورات تبيح المحظورات (kedaruratan menyebabkan sesuatu yang dilarang menjadi diperbolehkan).
b)      الضرورات تقدر بقدرها (kedaruratan itu hanya berlaku dalam batas dan kadar kedaruratan saja).
c)       المشقة تجلب التيسير (Kesulitan itu menyebabkan kemudahan dalam hukum).
d)      درء المفاسد مقدم على جلب المصالح (menghindari mafsadah lebih didahulukan daripada memperoleh kemaslahatan).
4.          Masyaqqoh (kesulitan) itu ada dua macam yaitu:
Masyaqqoh mu’tadah                                 : Kesulitan yang mampu diatasi manusia tanpa menimbulkan bahaya bagi dirinya
Masyaqqoh goiru mu’tadah      : Kesulitan/kesusahan yang diluar kekuasaan manusia dalam mengatasinya dan akan merusak jiwanya bila di paksakan.
5.          Penyebab kehancuran umat terdahulu : a)Banyak bertanya      b) menyelisihi nabi, tidak mau taat dan bersatu
6.          Jenis jenis Pertanyaan
a)      Pertanyaan yang diperintahkan
                                       i.      Bersifat fardhu ‘ain; pertanyaan tentang hal – hal yang harus diketahui oleh seorang muslim, contoh : pertanyaan tentang rukun iman dan rukun islam, ibadah dan thaharah
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
”Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” [QS. Al-Anbiyaa’ : 7].

                         ii.    Bersifat Fardhu kifayah, pertanyaan tentang pendalaman masalah agama, contoh: mendalami masalah fiqih, hadits, tafsir 
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ 
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(Attaubah : 122)
b)      Pertanyaan yang dilarang
                                       i.      Pertanyaan yang bertujuan untuk mengejek
                                     ii.      Menanyakan sesuatu yang tidak untuk dilakukan, dan malah mempersulit diri
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَسْأَلُواْ عَنْ أَشْيَاء إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu” [QS. Al-Maaidah : 101].
7.          Pentingnya menjaga persatuan ummat
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah ... (Ali Imron : 103) 

Comments

Popular posts from this blog

BELAJAR KEARIFAN DAKWAH DARI WALISONGO (CERAMAH HALAL BIHALAL Ust. SALIM A. FILLAH)

RISALAH DZUL HIJJAH DAN IDUL ADHA 1441 H