HILANGNYA KEBERKAHAN

HILANGNYA KEBERKAHAN

Beberapa waktu yang lalu kami mengkaji surat ar-ruum ayat 41. Ayat yang populer tentunya. Tentang kerusakan di darat dan di laut akibat ulah perbuatan tangan manusia.
{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ}
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Ar-Rum: 41)

Dawuh pangandikan Imam ibnu Katsir, kerusakan yang dimaksud adalah kriminalitas, terbunuhnya banyak manusia, kemaksiatan dan tidak tegaknya syariat Allah di muka bumi. Sedangkan akibat buruknya adalah berkurangnya bahan makanan, berkurangnya limpahan air hujan dan terjadinya paceklik. Istilah ringkas beliau : hilangnya keberkahan.

Seperti apakah keberkahan itu? Beliau menggambarkannya dengan hadis akhir zaman, kelak saat Nabi Isa diturunkan dari langit, ia menegakkan syariat, membinasakan Dajjal, memusnahkan Ya'juj dan Ma'juj, saat itulah dikatakan pada bumi, "Keluarkanlah semua berkah (kebaikan)mu!"
Dengan keberkahan itu, sebuah delima sudah cukup mengenyangkan banyak orang, bahkan kulitnya dapat mereka pakai untuk berteduh. Perahan susu seekor sapi mencukupi kebutuhan minum banyak orang. Itulah keberkahan sebab ditegakkannya syariat Allah. Manakala keadilan ditegakkan, maka keberkahan dan kebaikan berlimpah ruah.

Tiba tiba kita teringat hidup kita hari ini. Saat aneka rupa makanan dan minuman sebanyak apapun tak cukup memuaskan diri. Saat harta sebanyak apapun tak jua menimbulkan sifat qana'ah. Inikah indikator hilangnya keberkahan?
Berapa banyak makanan dan minuman yang kita habiskan? Berapa macam menu dan aneka rasanya? Berapa banyak uang yang kita kumpulkan? Lalu dari sebanyak itu, seberapa banyak yang berujung berkah tenaga yang produktif? Sudah sebandingkah amal saleh dengan yang kita habiskan untuk makan dan minum? Untuk wisata kuliner?

Ibarat rantai memutar, ketidakpuasan itu mendorong orang tega mencuri makanan orang lain, merampas minuman orang lain, mengambil hak dan harta orang lain. Kriminalitas merajalela. Dan sejatinya, para kriminal dan pelanggar syariat itu bukan hanya merugikan objek kriminalnya, tapi meratakan kerusakan ke seluruh penjuru semesta. Sampai disebutkan dalam hadis
"إنَّ الْفَاجِرَ إِذَا مَاتَ تَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ، وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ"
"Apabila seorang pendurhaka mati, maka merasa nyamanlah semua hamba, negeri, pepohonan, dan hewan-hewan dengan kematiannya itu."

Dan puncaknya adalah saat semua pelanggaran itu tidak mendapatkan hukuman sebagaimana mestinya. Hilangnya keadilan inilah sumber hilangnya keberkahan. Karenanya Nabi SAW bersabda :
"لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا"
Sesungguhnya suatu hukuman had yang ditegakkan di bumi lebih disukai oleh para penghuninya daripada mereka mendapat hujan selama empat puluh hari.

Begitulah, ketika hukum dan keadilan ditegakkan, orang akan takut berbuat maksiat. Ketika maksiat ditinggalkan, turunlah berkah dari langit dan juga dari bumi. Kita ingat ayat yang masyhur di surat al a'raf : 96.

Sekarang kita mengerti mengapa dahulu di zaman keemasan syariat Allah, saat keadilan ditegakkan dan kebenaran dijunjung tinggi, Nabi dan para sahabat selalu merasa cukup dengan makan sebutir kurma, minum seteguk air, sekerat roti dan tetesan cuka. Bahkan dalam suatu peperangan, para prajurit mencukupkan diri hanya dengan menghisap air rendaman kurma sebagai bekalnya. Itu bukan semata mata karena fisik mereka yang kuat, tapi karena dalam makanan dan minuman mereka yang tidak banyak itu berlimpah ruah kebaikan dan keberkahan.
Allahul musta'aan

Comments

Popular posts from this blog

BELAJAR KEARIFAN DAKWAH DARI WALISONGO (CERAMAH HALAL BIHALAL Ust. SALIM A. FILLAH)

RISALAH DZUL HIJJAH DAN IDUL ADHA 1441 H