ROBOHNYA SURAU (KEMANUSIAAN) KAMI

ROBOHNYA SURAU (KEMANUSIAAN) KAMI

Beberapa waktu yang lalu kami menulis tentang dahsyatnya efek kejahatan. Ia tidak hanya memadharati diri dan korbannya, tapi alam semesta ikut menanggungnya, ikut merasakan terkoyaknya nilai keberkahan akibat perbuatan jahat itu. Apalagi ketika ia tidak mendapatakan hukuman yang adil, makin lenyaplah keberkahan, seiring hilanglah nilai nilai peradaban dan kemanusiaan di muka bumi.

Hilangnya nilai kemanusiaan? Saya jadi ingat pernyatan pejabat kita tempo hari. Temanya tentang napi napi yang dibebaskan. Beliau yang terhormat ini menyebut, yang tidak mau menerima napi napi ini sudah tumpul rasa kemanusiaannya. Bisa dicari link beritanya di ustadz gugel.
Saya tergelitik dengan pernyataan ini. Sedikit saja. Tidak banyak banyak. Sekadar ingin bertanya, sebenarnya siapa yang sudah hilang rasa kemanusiaannya? Yang melakukan tindak kriminal? Atau yang tidak tegas memberikan hukuman? Atau yang membebaskan? Atau, tiba tiba jadi kita orang baik baik yang khawatir dengan kebijakan itu, yang dianggap sudah tumpul rasa kemanusiaannya?
Masih menurut bapak tadi, pertimbangannya adalah ; 1) di negara negara lain sudah melakukan, 2)menghemat anggaran negara. Alasan yang luar biasa manusiawi, tentu saja.

Sayup sayup terdengar kabar, menurut riwayat riwayat yang sahih di portal portal berita nasional, di Taiwan, Thailand, Malaysia, India dan Turki para napi diberdayakan untuk membantu membuat APD, menjahit masker, dan hal hal produktif lainnya. Sayang cuma sayup sayup. Jadi dianggap saja angin lalu. Ya sudah, lain ladang lain belalang, lain orang lain maunya.
Lalu berita tentang para –para yang dibebaskan itu mulai melakukan kejahatan lagi, satu persatu mulai muncul menghiasi. Petanyaan tadi menghunjam lagi. Siapa yang tumpul rasa kemanusiaannya? Kami?

Lalu ada juga berita ini :
UNTUK DIBEBASKAN LEWAT PROGRAM ASIMILASI, NAPI MEROGOH KOCEK SAMPAI 10 JUTA (Cari di ustadz gugel ya)
siapa yang tumpul kemanusiaannya? Kami? Yang merogoh dan yang dikasih rogohan itu, siapa yang wajib membina?

Tiba – tiba saya teringat ayat ini
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Allah SWT sudah mengisyaratkan itu. Membunuh satu orang itu sama dengan membunuh semua orang. Lanjutannya, ketidak tegasan terhadap kejahatan satu orang akan menghilir pada kekacauan kekacauan berikutnya. Satu orang berbuat jahat, proses hukumnya panjang penuh intrik. Lalu dihukum tidak tegas. Lalu lapas jadi penuh sesak. Lalu dibebaskan dengan alasan kemanusiaan, cakep! dan yang tidak menerima berarti masuk gerombolan manusia yang tumpul perikemanusiaannya. Luar biasa!

Simpang siur klaim kemanusiaan ini semakin heboh ketika ada yang tega menolak pemakaman pahlawan kemanusiaan di daerahnya. Para pahlawan medis itu, sudahlah tidak pernah mendapat ucapan belasungkawa dari pemangku kewenangan, masih ditolak pula mau dimakamkan. Dan belakangan, pemangku kewenangan bukannya berfikir agar mereka tetap hidup dan sehat, tapi malah berjanji menyediakan taman makam pahlawan. Lha ini lak sama saja dengan ... mbok difasilitasi dan didoakan sehat wal afiat gitu pak!

Siapapun yang khawatir dengan sepinya masjid di era covid, yang khawatir ramadhan kurang semarak, yang khawatir hari raya terhalang silaturahmi, harus punya kekhawatiran yang sama dengan problem-problem kemanusiaan ini. Sebab ia adalah bagian tak terpisahkan dari syariat agama yang mulia ini.

Tapi sudahlah. Tidak usah menuduh siapa-siapa. Sebaiknya kita amalkan saja ujaran bijak ini :
اذا اصبحت البلد غابة ليس شرطا ان تصبح انت حيوان
jika negeri sudah berubah jadi belantara, bukan alasan bagimu ikut berubah jadi binatang
Wallahul musta'aan

Comments

Popular posts from this blog

BELAJAR KEARIFAN DAKWAH DARI WALISONGO (CERAMAH HALAL BIHALAL Ust. SALIM A. FILLAH)

RISALAH DZUL HIJJAH DAN IDUL ADHA 1441 H